Home > Indonesian > Extension Course > Prescribed Issues > The changing face of society > The changing face of society: Listening activities
Dengarkanlah pendapat beberapa orang yang saya wawancarai tentang anak tunggal dalam sebuah keluarga. Kami akan mulai dengan Bapak Raharjo. Bapak Raharjo adalah seorang suami dan ayah. Dia berasal dari Jakarta.
Bapak Raharjo: Dengan pertimbangan keadaan jaman sekarang, saya berpendapat mempunyai seorang anak saja cukup. Pada jaman pos-moderen ini, kedua orangtua harus bekerja keras. Sulit membagi waktu untuk kegiatan di rumah dan di luar rumah. Tuntutan pekerjaan semakin tinggi dan banyak, sedangkan mendidik dan membesarkan anak bukanlah tanggung jawab yang kecil. Dan seperti yang sudah kita ketahui, biaya pendidikan sangat mahal.
Ibu Maria adalah seorang guru SD di Bandung.
Bu Maria: Sebagai pendidik di kelas, tugas guru semakin hari semakin sulit. Murid-murid jaman sekarang minta lebih banyak perhatian, karena mereka kurang mendapat perhatian di rumah. Maklum, orang tua mereka kebanyakan bekerja. Saya melihat terutama murid-murid dari keluarga kecil – dengan satu anak saja – mereka menuntut terlalu banyak. Mereka terbiasa hidup sendiri hanya dengan orang tuanya, anak-anak tunggal ini kemudian menjadi egois, tidak bisa bersosialisasi atau berteman dengan baik. Walaupun demikian sifat kepemimpinan mereka cukup menonjol.
Bapak Sudirman adalah ahli di bidang psikologi anak lulusan Universitas Indonesia.
Bapak Sudirman : Anak-anak yang dibesarkan sebagai generasi Y termasuk anak tunggal, cenderung menjadi manja dan egosentris. Mereka tumbuh menjadi orang-orang yang tidak sabar, hanya memikirkan kepentingannya sendiri saja, tidak mau berbagi dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Jarang ada orangtua jaman sekarang yang bisa mendisiplin anaknya dengan baik. Dan kita tahu, anak yang tidak didisiplin sejak kecil, akan memiliki sifat yang sulit ketika dewasa.
Johan, umur 30 tahun, adalah anak tunggal. Johan tinggal di Yogyakarta.
Johan : Sebagai anak tunggal, saya mengakui saya tidak mendapat kesempatan untuk bersosialisasi atau memberi perhatian kepada kakak atau adik. Saya juga tidak pernah belajar untuk berbagi mainan atau makanan dengan saudara-saudara, seperti yang selalu terjadi dengan teman-teman saya yang mempunyai kakak dan adik. Kalau saya dimanja, itu bukan salah saya, dan juga bukan salah orang tua saya. Maklum, karena hanya mempunyai seorang anak saja, perhatian mereka seratus persen tercurah kepada saya. Apalagi saya masih mempunyai dua orang nenek dan dua orang kakek yang sangat memanjakan saya. Tetapi saya kini menjadi orang yang mandiri, berani mengambil keputusan dan tegas. Saya menjadi ketua perkumpulan orang tua dan murid di sekolah.
Bu Marsinah adalah seorang nenek yang mempunyai 7 orang cucu.
Bu Marsinah: Waktu saya masih kecil dulu, saya hidup dengan lima orang kakak dan tiga orang adik. Rumah kami tidak pernah sepi, selalu ribut dengan suara anak-anak, waktu kami bermain atau berkelahi. Kami tidak pernah merasa kesepian. Dan waktu makan adalah waktu yang sangat menyenangkan. Masakan menjadi lebih lezat kalau dimakan bersama-sama. Kalau orang tua pergi ke luar kota, selalu ada kakak-kakak yang siap menjaga dan merawat kami. Dan sesudah saya dewasa, saudara-saudara saya menjadi teman ngobrol yang mengenal betul sifat-sifat dan masalah saya. Sedangkan cucu saya, anak tunggal, dia kurang bisa bergaul dan sifatnya agak tertutup.
Bapak Li Yang Liu adalah salah seorang staff dari Departemen Kesejahteraan Keluarga dari Negara Cina.
Bapak Li Yang Liu: Dengan kepadatan penduduk nomor satu di dunia, negara Cina mau tidak mau harus memberlakukan program keluarga dengan anak tunggal. Kampanye ini berhasil meredam naiknya jumlah penduduk selama dua dekade terakhir. Kita harus memikirkan masa depan anak-anak kita dan dunia secara umum. Kalau terus terjadi ledakan penduduk, dunia akan menjadi semakin sulit menyediakan makanan, tempat dan lapangan pekerjaan. Walaupun program anak tunggal ini berdampak negatif, harus diakui bahwa dampak positifnya sudah dapat dirasakan mulai sekarang.